LOGIKA DALAM FILSAFAT ISLAM


A. Selayang Pandang
Sejak berlakunya sistem SKS di lingkungan IAIN Walisongo Semarang dan sesuai dengan Kurikulum 1987 mata kuliah ilmu manyiq dalalm kurikulum 1976 diberi nama baru 'logika'. Perubahan nama ini membawa konsekuensi bahwa bahan yang harus dikuliahkan maliputi logika dalam arti luas, yaitu looogoka formal dan logika material.
Buku yang disusun oleh Dsr. H. Mundiri ini membahas kedua-duanya. Tentang Logika Formal yang meliputi pokok-pokok bahasan: pengertian logika, pembahasam kata, definisi, klasifikasi, oposisi, eduksi, silogisme dan dilema. Sedangkan untuk logika material meliputi pokok-pokok bahasan: generalisasi, analogi, hubungan, hipotesis dan teori, penjelasan dan probabilitas.
Ilmu Logika atau yang dalam islam lebih dikenal dengan istilah Ilmu Mantiq adalah ilmu yang mempelajari tentang metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari yang salah. Istilah 'logika' dipergunakan pertama kali oleh Zeno dari Citium. Kaum Sofis, Socrates, dan Plato dicatat sebagai perintis lahirnya Logika. Logika lahir sebagai ilmu atas jasa Aristoteles, Theoprostus dan kaum Tsoa.
Dalam ranah Islam Logika mulai diminati sejak abad II Hijriyah. Pada saat itu umat islam mulai melakukan penerjemahan kitab-kitab Yunani secara besar-besaran kedalam Bahasa Arab. Termasuk diantaranya adalah kitab-kitab buah karya filosof besar seperti Socrates, Plato, Aristoteles dan lain lain.

B. Asas-Asas Pemikiran
Dalam logika yang dicari sebenarnya adalah kebenaran. Kebenaran sendiri pada dasarnya adalah persesuaian antara pikiran dan kenyataan. Kita akan mengatakan bahwa proposisi ini benar bila antara kenyataan dan pikiran terjadi persesuaian. Misalkan, di Desa Tegalsari berdasarkan data kependudukan ternyata seluruh penduduknya adalah muslim, Dausat Al Baihaqi adalah penduduk desa tersebut. Maka, Dausat Al Baihaqi adalah muslim. Berbeda dengan pernyataan Ali adalah orang tunawicara yang pandai berdebad. Dari pernyataan kedua tersebut nanpak jelas suatu keganjilan, manamungkin ada seorang yang tunawicara mampu berdebat sedangkan untuk berbicara saja dia tidak bisa. Berbeda dengan pernyataan pertama yang memberikan kesimpulan bahwa Dausat Al Baihaqi adalah muslim, kesimpulan ini didasarkan pada validitas data kependudukan yang ada.
Disinilah pentingnya logika dalam kehidupan sehari-hari, dia mencari sebuah kebenaran umum yang dapat diterima oleh akal sehat berdasarkan data-data yang vali﴾ilmu apriori﴿, dia tidak mendasarkan pikirannya pada hal yang bersifat empiris ﴾ilmu a posteriori﴿.
Dalam aktivitas berfikir untuk memperolth suatu kebenaran, kita tidak boleh melalaikan patokan pokok yang oleh logika disebut dengan Asas Berfikir. Asas–asas tersebut adalah sebagai berikut:
1. Asas Identitas ﴾principium identitatis﴿

2. Asas Kontradiksi ﴾principium contradictoris﴿

3. Asas Penolakan Kemungkinan Ketiga ﴾principium exclusi tertii﴿


C. Analisis
Ilmu logika atau ilmu mantiq secara global menyelidiki, menyaring dan menilai pemikiran dengan cara serius dan terpelajar serta bertujuan mandapatkan kebenaran, terlepas dari segalal kepentingan dan keinginan perorangan. Ia merumjuskan serta menerapkan hukum-hukum dan katokan-patokan yang harus ditaati agar manusia dapat berfikirbenar, efisiendan teratur. Dengan demikian ada dua obyek penyelidikan logika, pertama, obyek material dan kedua, obyek formal.





0 Response to "LOGIKA DALAM FILSAFAT ISLAM"

Poskan Komentar