PEMIKIARAN AL-GHAZALI


al-Ghazali atau yang bernama lengkap Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad al-Ghazali ﴾ 450 H-505 H atau 1085 M-1111 M ﴿ memasuki dunia tasawuf setelah begitu lama dan singgah di beberapa halte intelektualisme. Perjalanan al-Ghazali menuju tasawuf melalui proses pengembangan spiritual dan intelektual yang begitu panjang. Oleh karena itu tasawuf yang dikembangkan oleh al-Ghazali adalah bercorak singkretisasi syariat dan hakikat. Dalam perkembangnnya tasawuf al-Ghazali tergolong ke kelompok tasawuf sunni yang berakar pada ortodoksi.
Sebelum al-Ghazali masuk pada ranah tasawuf, beliau terlebih dahulu masuk pada ranah teologi dan filsafat. Teologi dan filsafat inilah yang mempengaruhi pola pikir al-Ghazali menjadi pola pikir yang skeptis. Sikap skepti sinilah yang nantinya akan mengantarkan al-Ghazali pada jalan tasawuf.
Menurut al-Ghazali jalan tasawuf adalah satu-satunya jalan yang dapat membawa kepada kebenaran yang hakiki yang tidak akan diperoleh dari ilmu-ilmu lain, termasuk ilmu teologi dan ilmu filsafat yang telah beliau dalami sebelumnya. Dalam islam al-Ghazali digelari Hujjatul Islam Zauniddin al-Thusi karena telah menyelamatkan ajaran islam dari ajaran-ajaran yang telah menyimpang.
Telah disinggung sebelumnya bahwa corak tasawuf yang dikembangkan oleh al-Ghazali adalah merupakan singkretisasi antara syariat dan hakikat. Syariah yang dimaksud disini adalah segala yang berhubungan dengan aspek lahiriah manusia, sedangkan hakikat berkenaan dengan aktivitas batinnya. Fakta ini dapat dibuktikan dengan kandungan kitabnya yang paling fenomenal yaitu kitab Ihya' Ulumuddin, didalamnya berisi ajaran-ajaran tasawuf yang disingkronkan dengan ajaran syariah melalui begitu banyak pertimbangan.
Perjalanan menuju tasawuf menurut al-Ghazali diawali dengan penyucian qalbu, serta melepaskan diri dari ketergantungan kepada selain Allah. Kedua hal inilah yang menurut al-Ghazali bisa mengantarkan manusia kepada jalan ma'rifatullah yang merupakan tujuan akhir yang harys dicapai manusia sekaligus merupakan kesempurnaan tertinggi yang mengandung kebahagiaan hakiki. Proses menuju ma'rifatullah ini menurut al-Ghazali hanya dapat dicapai jika melalui beberapa tahapan yang dalam terminologi sufisme dikenal dengan al-maqamat. Maqam-maqam yang dimaksud adalah taubat, sabar, kefakiran, zuhud, tawakal dan cinta. al-Ghazali menolak konsep hulul, ittihad dan wusuf karena dianggapnya keliru. Wallahu a'lam

ARGUMEN
Maha Besar Allah yang dengan segala keutamaan-Nya telah memberikan petunjuk bagi manusia melalui para wakil-Nya di dunia. Sebenarnya kami merasa tidak pantas untuk memberikan tanggapan kepada al-Ghazali yang nota bene sebagai guru besar kita. Tapi, kami berusaha seobyektif mungkin memberikan argumen kami tentang ajaran tasawuf beliau.
Ajaran tasawuf yang dikembangkan al-Ghazali adalah ajaran tasawuf yang menekan-kan pada penyucian qalbu. Bila qalbu ini telah suci dari berbagai macam penyakitnya, maka qalbu akan dengan mudah menerima Nur Ilahi, dan pada akhir perjalanannya seluruh aktivitas yang ada pada jiwa dan raga manusia akan dengan sendirinya mengejawantahkan nilai-nilai ketuhanan. Pengetahuan akan hakikat dari segala sesuatu akan dengan sendirinya dia peroleh. Sehingga pandangannya akan dunia berubah. Hal yang dianggap sebagai kenikmatan bagi sebagian besar manusia, menurutnya tidak lebih dari sebuah yang bisa membuatnya lupa akan kekasih sejatinya 'Allah'. Ajaran beliau tentang pembersihan hati ini sebenarnya telah sesuaii kandungan tersirat dari Hadits Nabi:
عن ابي عبد الله النعمان بن بشير رضي الله عنهما قال سمعت رسول الله صل الله عليه وسلم يقول : ........ ان في الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله واذا فسدت فسد الجسد كله الا وهي القلب (رواه البخاري و مسلم)
Sebenarnya, ajaran tasawuf al-Ghazali merupakan perpaduan antara syariat dan hakikat. Keduanya dilebur menjadi paduan yang saling melengkapi dan saling mengisi. Nilai-nilai pokok yang ada pada hakikat diwujudkan dalam bentuk amal ibadah dalam tataran syariah. Harmonisasi inilah yang akan membentuk kepribadian muslim yang kamil dihadapan Allah dan para manusia.
Jauh lebih dalam, kajian tasawuf al-Ghazali merupakan hasil dari pencarian kebenanaran yang telah dijalani al-Ghazali sejak masih kecil. Sikap skeptis yang hinggap dalam diri al-Ghazali telah menghantarkan beliau pada pertanyaan mengenai 'apa hakikat dari kebenaran itu?'. Dari sinilah Perjalanan dalam rangka mencari kebenaran oleh al-Ghazali dimulai. Satu demi satu ilmu dipelajari al-Ghazali secara komprehensif untuk mencari hal yang dinamakannya keyakinan. Dari sekian banyak ilmu yang beliau dalami hanya ada satu ilmu yang bisa menjawab pertanyaan besarnya, dan ilmu itu adalah tasawuf. Pencarian kebenaran berlandaskan nila-nilai ketuhanan yang tidak bisa diterjemahkan oleh ilmu-ilmu yang telam beliau pelajari sebelumnya.
Pemahaman tentang nilai-nilai ketuhanan inilah yang ditafsiri al-Ghazali sebagai nilai luhur yang harus dimiliki oleh setiap orang yang menyatakan ikrar ketauhidan dan penyaksian akan keagungan Allah serta seluruh sifat-sifat yang dimiliki-Nya. Jalan tasawuf yang dipilih oleh al-Ghazali adalah produk keintelektualan yang ditautkan dengan kaidah-kaidah keyakinan yang merupakan pancaran dari kekuatan transenden yang maha dahsyat yang dikenal dengan Nur Ilahi.
Semangat al-Ghazali sebagai seorang muslim inilah yang telah terlupakan oleh generasi Islam. Sikap pragmatis telah menjadi paradigma buruk yang telah mempengaruhi konsep Islam yang hakiki. Karenanya penyegaran nilai-nilai yang telah hilang ini perlu diintensifkan. Agar khazanah keislaman tetap lestari di era global yang telah membutakan mata hati kita sekarang. Dan itu adalah tugas teramat mulia yang harys kita laksanakan sebagai generasi muda islam.



0 Response to "PEMIKIARAN AL-GHAZALI"

Poskan Komentar