POLITIK PESANTREN

POLITIK PESANTREN

Suasana keakraban yang terjadi didalam lingkungan pondok pesantren tidak perlu di pertanyakan lagi. Disana hidup sekelompok orang yang berbeda budaya, sosial, ekonomi, karakter, watak, fisik dan sebagainya. Akan tetapi perbedaan itu tidak menjadikan sesuatu yang tabuh untuk terjadinya tali persaudaraan yang erat diantara mereka.
Suasana keakrabannya dapat kita lihat dari pola hidup mereka yang saling gotong royong antara anggota pondok yang satu dengan yang lain. Itu dapat kita buktikan dengan melihat pola hidup mereka yang selalu hidup bersama, makan bersama, tidur bersama, dan suka-senang dilalui bersama, Sampai-sampai pakaian pun dibuat gantian bersama. Kegiatan-kegiatannya pun ditata sedemikian rupa untuk semakin terciptanya suasana keakrabannya, yakni dengan diadakannya kegiatan Ro’an bersama setiap satu minggu sekali, mengaji dan berdzikir bersama.
Kehidupan anak-anak pesantren sangatlah sederhana, walaupun tidak sedikit diantara mereka yang tergolong anak yang mampu secara ekonomi orang tua mereka, akan tetapi mereka menseragamkan status ekonomi sosial mereka. Mereka ikut berbaur bersama anak-anak yang status sosial jauh dibawa mereka, tujuan mereka adalah untuk menuntut ilmu spiritual yang terdapat dipesantren.
Pendidikan dipesantren tidak jauh beda dengan pendidikan dilembaga formal lainnya, yang membedakan adalah: pendidikan dipesantren lebih menitik beratkan pada ilmu spiritualnya, sedangkan pada lembaga formal lebih menekankan pada ilmu pengetahuan atau umumnya.tak seperti yang kita bayangkan kalau mendengar kata-kata pesantren yang sangat identik dengan ketekunannnya dalam mengkaji dan mendalami ilmu agama seperi halnya kajian Kitab Kuning, Bahsul Masail, dan lain sebagainya. Tapi hal itu tak sama dengan realita yang terjadi di lapangan, karena sebagaimana yang kita ketahui pesantren itu hanya di huni para pemuda-pemudi yang tak lain untuk belajar di dalamnya akan ilmu-ilmu, khususnya ilmu agama. Dan mereka disibukkan dengan kegiatan-kegiatan Spiritual. Namun hal itu bertolak belakang dengan pesantren yang mayoritas di huni para maha siswa yang pada dasarnya mereka bukan hanya konsentrasi pada satu Study keilmuan saja, melainkan mereka bergelut dengan banyak study keilmuan lainnya.
System yang diterapkan dalam pesantren pun tak sama dengan system yang berlaku pada pesantren Salaf pada umumnya, pada pesantren ini lebih menekankan kesadaran pada setiap individu santri, karena usia mereka pun sudah beranjak dewasa sehingga mereka cenderung berontak tatkala mereka sering di tekan, di lain sisi penekanan pun sangat penting karena yang namanya pesantren tidak lepas dari peraturan-peraturan, sebagaimana yang kita ketahui dimanapun ada Instansi atau lembaga apapun jenisnya maka disitulah terdapat peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh semua anggota yang merasa berpartisipasi didalamnya. Disinilah kesadaran setiap individu setiap santri di pertaruhkan karena hanya dengan itulah semua peraturan-peraturan akan berjalan secara maksimal. Selain itu kegiatan pesantren pun di sesuaikan dengan kegiatan perkuliahan sehingga tidak benturan antara keduanya, walaupun pesantren mahasiswa akan tetapi tidak meninggalkan budaya kepesantrenan. Seiring dengan banyaknya tindakan KKN yang merasuki semua lini kehidupan, maka hal itu membuat terobosan baru bagi para ulama yang pada dasarnya sebagai panutan masyarakat yang mana mereka mempunyai nilai lebih, maka mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Mereka ikut berkontribusi dalam mengurangi KKN.
Disamping itu ada pula sisi negative dari keikut sertaan ulama dalam kanca politik, yakni terkikisnya cultur pesantren yang di pimpinnya. Selain itu dapat menjatuhkan harkat dan mertabat serta charisma ulama di mata khalayakm umum.
Allahu A’lam Bish-showab








0 Response to "POLITIK PESANTREN"

Poskan Komentar